Selasa, 18 September 2012

Kecillku di Pule-Tayu (budaya dan tradisi yang hampir hilang)

Pundenrejo atau yang lebih dikenal (Pule) adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 3 Km sebelah barat Alun-alun kota Tayu, sebuah kota kecil di wilayah kabupaten Pati bagian utara. Di sana aku dibesarkan dengan berbagai kenagan indah menjalani kehidupan kanak-kanakku.
Pundenrejo (Pule) memiliki wilayah-wilayah pedukuhan yang meliputi, pule wetan, pule kulon, kiringan lor, kiringan kidul, nglebak, jering, kesambi.
Banyak kenagan indah yang diantaranya berasal dari tradisi-tradisi kehidupan dikala zaman aku masih kanak-kanak, diantaranya:

1.Perang Lampor.
Yang aku ingat perang lampor adalah perang antara kelompok pengembala (bocah angon) yang sudah direncanakan waktu dan tempatnya. kisahnya sebagai berikut:
Petang sehabis maghrib semua anak-anak berada di dalam rumah, kecuali mereka yang masih mengaji di surau. Menggunakan penerangan lampu petromak (strongking) karena belum ada listrik masing-masing keluarga termasuk aku berkumpul di ruang tengah dengan belajar atau mengaji sampai terdengan kentongan tanda waktu sholat isak.
Beberapa saat kemudian selepas isak terdengan dari arah barat (karena aku berada di wilayah Pule-Wetan) suara kentongan bambu bertalu-talu dan beberapa benda lain yang dipukul-pukul terdengar cukup banyak jumlahnya. Semua anak-anak yang depan rumahnya dilewati pasti akan keluar untuk menengok karena penasaran tedengarnya hingar-bingar suara kentongan dan tabuhan lainnya.
Terlihat sayup-sayup di kepekatan malam olehku serombongan orang-orang yang menabuh tabuhan/kentongan yang membawa obor dari bambu sebagian dengan berkerudung sarung, dengan membawa sesuatu yang tinggi dan besar terbuat dari pelepah kelapa (blukang dan balaraknya) yang dirangkai sedemikian rupa yang diisi oleh klaras (pelepah pisang yang sudah kering). Sebagian lainnya membawa semacam martil tetapi terbuat dari buah kelapa muda (blulok) yang dilubangi seperti mangkok, kemudian disi dengan kapok randu yang sudah dicelup kedalam minyak tanah dan diberi tali seperti martil yang dapat diayunkan dan dilempar ke atas cukup jauh yang diberi nama ndaru. Itulah yang dikatakan senjata mereka untuk pergi ke medan perang.
Dimana mereka perang, bagaimana mereka berperang  dan untuk apa mereka perang?
Ternyata sebelumnya mereka sudah sepakat dengan kelompok pengembala (cah angon) lainnya untuk mengadakan pertempuran di suatu tempat terbuka. Mereka berduyun-duyun ke lapangan komplek kuburan Cina di desa Tayu Kulon, entah mereka bertempur dengan kelompok mana.
Sampai di tempat yang sudah disepakati ternytaa kubu musuh sudah berada ditempat dengan senjata yang sama. Terjadailah hingar-bingar kemudian beberapa orang yang ditunjuk untuk mewakili kelompok mendatangi musuh untuk berunding dan berdoa sejenak. Tak berapa lama kemudian wakil-wakil kelompok tersebut kembali ke kelompoknya masing-masing dan mempersilakan seseorang untuk mempimpin do'a.
Sejenak kemudian terdengar kentongan ditabuh bertalu-talu dibarengi api menyala-nyala membakar senjata pelepah kelapa yang diayunkan kesana kemari menuju tempat musuh, sementara barisan belakang membakar ndaru sambil diputar-putarkan talinya setelah itu dilepas sehingga terbang tinggi, sebagian ke arah musuh, sebagian lagi ke arah yang tidak jelas yang penting membuat suasana hingar bingar penuh kobaran api. seru-seru-seru sekali.
Setelah api mulai habis mereka mulai membubarkan diri, sebagian berkelompok dengan teman-temannya dan sebagian lagi langsung pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah setelah melihat pertempuran tadi aku bertanya pada bapak saya, untuk apa mereka mengadakan pertempuran yang sepintas sangat berbahaya bagi jiwa mereka?
Bapakku menjawab, mereka melakukan tradisi berdo'a bersama agar hewan-hewan ternak mereka terhindar dari berbagi penyakit, dan pertempuran antara mereka merupakan lambang kegigihan untuk memelihara ternak mereka dari berbagai ancaman penyakit.

sayang sekali tradisi tersebut sudah hilang, dan apabila dihidupkan kembali dengan konteks yang lain betapa serunya dan bahkan bisa jadi aset pariwisata.

Tadisi dan even lainnya yang akan saya ceritakan selanjutnya (tunggu dan sabar ya)
1. Kabumi  (sedekah bumi)
2. KhoulMbah Abdullah Assyq (Kiageng kiringan) http://kiringan.com/
3. Dolanan dan permainan
4. Pasar Malam
5.Layar Tancap bakul jamu
6.Bal-balan (sepak bola)
Sekitar Tayu
1. Lomban Syawalan/Kupatan Sungai Tayu
2. Nggantingi/Selamatan Giling PG Pakis Baru


Achmad Budiono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar